06 March 2007

Sang Berhala

Pengucapan amin sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari keseharian umat Islam. Setelah membaca surat al-Fatihah menyebut amin, setiap kali selesai berdoa menyebut amin, kalau ada seseorang yang mendoakan pun oleh yang didoakan disahut dengan kata amin.

Pengucapan amin di dalam tradisi Islam didasarkan pada sebuah hadits yang berasal dari Abu Hurairah. Hadits tersebut menyuruh umat Islam agar mengucapkan amin begitu imam shalat selesai membaca surat al-Fatihah. Ada iming-iming menggiurkan untuk siapa yang ucapan amin-nya berbarengan dengan ucapan amin malaikat, yaitu dosa-dosanya yang lalu akan dihapuskan.

Perintah untuk menyebut amin di akhir doa tidak akan ditemukan di dalam al-Qur’an. Alih-alih menyebut amin, Kitab yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu memaparkan kepada kita sebuah penutup doa para ahli surga. Penutup doa mereka yang telah berada di dalam keridhaan Allah itu adalah Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin.

“…Dan akhir seruan mereka: ‘Segala puji bagi Allah, Pemelihara semesta alam’.” (Q.S. 10:10)

Begitu pula dengan ucapan para malaikat, tidak ada keterangan al-Qur’an yang mengkonfirmasikan bahwa para malaikat mengucapkan amin. Kalimat yang diucapkan oleh para malaikat di sisi Allah tidak lain dari Alhamdulillahirabbil ‘aalamiin juga.

”Dan kamu akan melihat para malaikat mengelilingi Arasy dengan melafaz sanjungan Rabb mereka; dan dengan adil perkara diputuskan antara mereka; dan dikatakan, ’Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam’.” (Q.S. 39:75)

Menilik tradisi agama-agama yang sudah lebih dulu ada, sahutan amin/amen yang diajarkan oleh Abu Hurairah ini menemukan pijakannya di dalam Bible.

Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, … (Neh. 8:7)

Bila Anda pernah mendengar pengucapan amen/amin dalam acara kebaktian gereja dan lalu membandingkannya dengan pengucapan amin dalam shalat berjamaah, memang terasa kesamaan gaya pengucapannya. Kata amin/amen disuarakan dengan nada yang khas secara serempak sehingga menimbulkan gema yang cukup dalam dan panjang.

Catholic Encyclopedia vol. 1 1907 menyebutkan bahwa kata amen/amin sebagaimana yang digunakan pada acara kebaktian di gereja adalah berasal dari bahasa Ibrani (Yahudi).

“The word Amen is one of a small number of Hebrew words which have been imported unchanged into the liturgy of the Church ... 'So frequent was this Hebrew word in the mouth of Our Saviour', observes the catechism of the Council of Trent, "that it pleased the Holy Ghost to have it perpetuated in the Church of God.”

Amen, atau yang oleh orang Arab dan Melayu disebut amin, secara harfiah berarti “dipercaya”. Dalam penggunaannya kemudian, kata amen/amin digunakan untuk mengekspresikan harapan terkabulnya permintaan. Ekspresi tersebut sama dengan ungkapan “mudah-mudahan”.

Dengan berpatokan pada makna ungkapan amen/amin yang kurang lebih diartikan “mudah-mudahan”, umat Islam tidak merasa ada masalah untuk mengucapkannya meskipun ia tidak diajarkan di dalam al-Qur’an.

Berhubung sebutan amen/amin yang tidak pernah diajarkan Allah ini biasa dipergunakan di dalam shalat maupun doa, maka saya mengajak Anda untuk bersikap lebih kritis dan berhati-hati dalam persoalan ini. Benarkah amen/amin hanya sebuah ungkapan yang berarti mudah-mudahan?

Bila kita mengecek Bible, maka akan kita temukan bahwa sesungguhnya amen/amin bukanlah sekadar sebuah ungkapan. Amen/amin adalah sebuah nama!

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah” (Why. 3:14)

Salah satu himne yang populer di kalangan umat Kristen–disadari atau tidak—juga dengan jelas telah memperlakukan amen/amin sebagai sebuah nama.

“We ask this in Thy Name, Amen”

“We praise Thy Name, Amen”

“We ask this in the Name which is above every Name, Amen”

“Praise the Lord" - with the communal response: Amen”

Nama amen/amin sebagaimana yang digemakan oleh umat Islam, Kristen, dan Yahudi di mesjid-mesjid, gereja-gereja, dan sinagog-sinagog identik dengan ungkapan Aum (dibaca: Om) yang digunakan oleh umat Hindu dan Budha di dalam doa dan peribadatan mereka.

Di dalam Maitri Upanishad dikatakan bahwa Aum adalah suara pertama di alam semesta. Pernyataan di dalam Maitri Upanishad tersebut sejalan dengan pasal Bible yang mengatakan bahwa yang pertama ada adalah “kata”.

“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1)

Pada terjemahan Bible berbahasa Inggris versi King James, frasa “pada mulanya adalah Firman” pada pasal di atas berbunyi “In the beginning was the Word”. Pada mulanya adalah kata.

Sebagaimana yang telah diinformasikan oleh Bible bab Wahyu pasal 3:14, “kata” yang diklaim sebagai permulaan ciptaan Tuhan bahkan sebagai Tuhan itu sendiri adalah amen/amin/aum.

Kita sudah mengetahui bahwa amen/amin/aum adalah sebuah nama. Tapi, nama siapa?

Columbia Encyclopedia, 6th Edition 2001 menginformasikan bahwa Amen adalah salah satu trinitas dewa berhala bangsa Mesir kuno. Amen sempat menjadi dewa paling berkuasa di Mesir dan kedudukannya diidentikkan dengan dewa Zeus bangsa Yunani.

“Amon or Amen, Egyptian deity. He was originally the chief god of Thebes; he and his wife Mut and their son Khensu were the divine Theban triad of deities. Amon grew increasingly important in Egypt, and eventually he (identified as Amon Ra; see Ra) became the supreme deity. He was identified with the Greek Zeus (the Roman Jupiter). Amon's most celebrated shrine was at Siwa in the Libyan desert; the oracle of Siwa later rivaled those of Delphi and Dodona. He is frequently represented as a ram or as a human with a ram's head.”

Proses penyerapan nama berhala Mesir kuno ke dalam bahasa Ibrani (Yahudi) tentunya berlangsung ketika bangsa Yahudi menjadi budak raja-raja Mesir pada era dinasti ke XVIII dan dinasti ke XIX “Kerajaan Baru” sekitar tahun 1570 SM sampai dengan 1225 SM. Pada periode itu dewa utama bangsa Mesir adalah Amen, yang kemudian seiring dengan pengaruhnya yang semakin besar digelari sebagai dewa matahari (“Ra”).

Merujuk kepada al-Qur’an, kita mengetahui bahwa raja-raja Mesir (para Firaun) memang menanamkan keyakinan bahwa diri mereka adalah Tuhan. Tidak mengherankan kalau kemudian kita mendapati adanya upaya untuk memposisikan amen/amin/aum ini sebagai entitas “Tuhan” dengan misalnya menganggap bahwa ia adalah awal mula segala sesuatu.

”Dan Firaun berkata, ’Wahai pembesar-pembesar, aku tidak mengetahui bahwa kamu mempunyai Tuhan selain dari aku’!” (Q.S. 28:38)

Meskipun pada akhirnya kaum Yahudi dibebaskan di bawah pimpinan Nabi Musa, kecenderungan mereka pada patung berhala masih sangat kental. Kecenderungan tersebut menjelaskan mengapa nama berhala Mesir masih tetap lekat pada lisan mereka.

”Dan Kami bawa Bani Israil menyeberangi laut, dan mereka datang kepada satu kaum yang bertekun pada patung-patung yang mereka punyai. Berkata, "Wahai Musa, buatkanlah untuk kami satu tuhan seperti tuhan-tuhan yang mereka punyai." Berkatalah dia (Musa), ’Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh’.” (Q.S. 7:138)

“Catholic Encyclopedia vol. 1 1907” yang tadi telah kita kutip menguraikan pula keterkaitan antara kata amen/amin yang biasa digaungkan oleh umat Islam, Kristen, dan Yahudi, dengan mantra-mantra magis bangsa Mesir. Tentunya ini bukan semata kebetulan.

“Finally, we may note that the word Amen occurs not infrequently in early Christian inscriptions, and that it was often introduced into anathemas and gnostic spells. Moreover, as the Greek letters which form Amen according to their numerical values total 99 (alpha=1, mu=40, epsilon=8, nu=50), this number often appears in inscriptions, especially of Egyptian origin, and a sort of magical efficacy seems to have been attributed to this symbol. It should be mentioned that the word Amen is still employed in the ritual both of Jews and Mohammedans.”

Aum (dibaca: Om) secara umum juga dikenal sebagai sebuah mantra agung yang digemakan berulang-ulang dalam laku spiritual.

“Let him recite the Gayatri Mantra prefixed with the mystic syllable Om, the mother of all the Vedic mantras” (Garuda Purana)

Mereka yang menolak adanya keterkaitan antara ucapan amen/amin dengan Amen si dewa berhala beralasan bahwa secara semantik ucapan amen/amin memiliki arti tersendiri yaitu “dipercaya”. Tambahan lagi, mereka mengklaim tidak pernah punya ‘nawaitu’ untuk menyeru patung batu yang berdiri di kuil Karnak Mesir tersebut dalam doa dan ibadahnya.

Kali ini saya mengajak Anda mencermati ayat-ayat al-Qur’an yang menguraikan tentang “sesuatu yang diseru selain Allah”, dan kemudian membandingkannya dengan hipotesis yang menyatakan bahwa seruan amen/amin ditujukan kepada berhala.

Pertama, sesuatu yang diseru selain Allah itu tidak akan pernah menyahuti. Dan siapakah yang lebih sesat dari orang yang menyeru selain dari Allah, yang tidak akan menyahutinya hingga Hari Kiamat...” (Q.S. 46:5)

Ke dua, mereka yang menyeru kepada sesuatu selain Allah itu tidak menyadari apa yang sesungguhnya mereka seru. “…dan mereka, lalai pada seruan mereka?” (Q.S. 46:5)

Ke tiga, sesuatu yang diseru selain Allah itu berkemungkinan diseru beserta nama Allah. ”Dan janganlah menyeru tuhan yang lain berserta Allah; tidak ada Tuhan selain Dia...” (Q.S. 28:88)

Ke empat, sesuatu yang diseru selain Allah itu berkemungkinan diseru pula di mesjid-mesjid. “Bahwasanya masjid-masjid adalah kepunyaan Allah, maka janganlah menyeru kepada selain Allah di dalamnya” (Q.S. 72:18)

Kata-kata “menyeru/seruan” pada redaksional ayat-ayat di atas adalah terjemahan dari kata bahasa Arab “tad’u/yad’u” yang masih satu akar dengan kata doa. Terjemahan tersebut lebih tepat bila dibandingkan dengan kata “menyembah” sebagaimana yang umumnya kita temukan pada terjemahan al-Qur’an bahasa Indonesia.

Sekarang Anda perhatikan empat pernyataan mengenai “sesuatu yang diseru selain Allah” di atas satu persatu. Kesemuanya sesuai dengan praktik penyebutan amen/amin dalam kehidupan sehari-hari.

(1)Patung amen/amin tidak akan pernah menyahuti orang-orang yang siang malam memanggilinya; (2)orang-orang yang memanggil amen/amin tidak sadar kalau yang mereka seru itu adalah sebuah patung batu; (3)amen/amin diseru beserta nama Allah (Allah di awal doa, amen/amin di akhir doa); (4)amen/amin diseru pula di dalam mesjid-mesjid secara teratur setiap hari.

Adanya makna kamus “dipercaya/mudah-mudahan” untuk kata amen/amin ternyata tidak melemahkan hipotesis bahwa seruan amen/amin adalah ditujukan kepada berhala. Malahan keberadaan makna kamus tersebut menjadi salah satu faktor yang melalaikan para penyeru amen/amin dari menyadari apa yang sesungguhnya mereka seru.

Malangnya, ketiadaan niat tidak dapat menjadi tameng pembenaran di hadapan Allah. Silakan baca kembali surat 46:5 di atas, Allah tetap mencap “sesat” meskipun si penyeru tidak menyadari (lalai) terhadap seruannya.

Konsekuensi Musyrik

Apakah setelah ini Anda masih akan terus bertekun dengan seruan amen/amin atau tidak adalah sepenuhnya pilihan Anda. Namun saya hanya ingin mengingatkan bahwa menyeru sesuatu selain Allah akan menjatuhkan pelakunya kepada kemusyrikan. Sebuah dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah.

“Katakanlah, ’Adakah kamu memikirkan sekutu-sekutu yang kamu seru selain dari Allah? Perlihatkanlah kepadaku apa yang mereka ciptakan di bumi; atau adakah bagi mereka satu sekutu di langit?’...” (Q.S. 35:40)

Tidak saja di dalam al-Qur’an, Bible juga mengingatkan hal yang sama untuk menjadi kepedulian bagi umat Kristen yang ingin memurnikan ketaatannya kepada Allah.

Dalam segala hal yang Kufirmankan kepadamu haruslah kamu berawas-awas; nama allah lain janganlah kamu panggil, janganlah nama itu kedengaran dari mulutmu. (Kel. 23:13)

Tersembunyi

Teks-teks peninggalan Mesir kuno menuliskan bahwa makna nama Amen diidentikkan dengan “tersembunyi”/”tidak terlihat”. Dalam himne pemujaan kepada dewa Amen dikatakan bahwa dia “tersembunyi dari anak-anaknya”, serta “tersembunyi dari dewa-dewa dan manusia”.

Rupanya tekad Amen untuk menobatkan dirinya sebagai “dewa yang tersembunyi” cukup berhasil. Ribuan tahun umat dari agama-agama besar dunia memanggil-manggil namanya tanpa pernah mereka sadari. Amen dengan sangat rapi tersembunyi di balik lembaran-lembaran doktrin agama sebagaimana virus komputer membenam di dalam sirkuit hard disk.

Tersanjunglah Allah yang telah menurunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan menjaganya dari segala bentuk penyimpangan. Mereka yang berpegang teguh hanya kepada al-Qur’an akan terhindar dari menyeru amen/amin karena hal demikian memang tidak pernah diajarkan di dalamnya.

Umat Islam yang menyeru amen/amin hanyalah mereka yang meninggalkan al-Qur’an dan menggantinya dengan kitab hadits. Kitab yang tidak dikenal oleh Nabi Muhammad, maupun oleh tujuh generasi awal umat Islam.