14 September 2005

Kematian, Alam Barzakh, Dan Kebangkitan


KEMATIAN
Semua yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Seseorang yang sedang tekun meniti jalan spiritual biasanya sering merenungi kematian. Renungan tersebut dapat berujung pada phobia (ketakutan yang tidak pada tempatnya) tatkala informasi yang didapatkan tentang kematian keliru adanya.

Bagaimana tidak akan ketakutan, kalau diceritakan bahwa seringan-ringannya rasa sakit pada saat kematian adalah seperti sakit yang dirasakan oleh seekor kambing yang dikuliti hidup-hidup? Sebagai catatan, metafora kambing yang dikuliti hidup-hidup ini sama sekali tidak dikenal di dalam Al-Qur’an.

Memang ada manusia yang nyawanya dicabut malaikat dengan cara yang kasar, disamping ada pula yang nyawanya dikeluarkan dengan lembut. Sepanjang kita termasuk orang-orang yang beriman maka tidak perlu merasa takut karena perlakuan yang kasar tersebut hanya diperbuat terhadap orang-orang yang tidak beriman.

“Demi yang merengggut dengan keras, dan yang mengeluarkan dengan lembut.” [Q.S. 79:1,2]

“Kalau kamu dapat melihat ketika para malaikat mematikan orang-orang yang kafir seraya memukul muka dan belakang mereka, ‘Rasakanlah azab yang membakar’” [Q.S. 8:50]

Derita kematian untuk orang-orang yang tidak beriman adalah salah satu bentuk siksaan di dunia sebelum mendapat siksaan yang kekal di Hari Akhir nanti.

ALAM BARZAKH
Setelah mati, jiwa kita meninggalkan dunia ini menuju sebuah dimensi yang disebut alam kubur atau biasa juga disebut alam barzakh untuk tidur panjang. Barzakh berarti dinding. Di alam barzakh ini kita terdinding dari kesempatan untuk berbalik ke dunia.

“Sehingga apabila kematian datang kepada seorang dari mereka, dia berkata: ‘Wahai Rabbku, kembalikanlah aku, supaya aku membuat amal kebaikan yang telah aku tinggalkan.’ Sekali-kali tidak, itu hanyalah perkataan yang diucapkannya saja. Dan di belakang mereka ada dinding (barzakh) sampai hari mereka dibangkitkan”. [Q.S. 23:99,100]

Setelah mati dan ditempatkan di alam barzakh, jiwa manusia tidak bisa mendengar apapun. Jadi, jangan sekali-kali minta didoakan kepada orang yang sudah mati karena hal tersebut adalah perbuatan sia-sia.

“Tidaklah sama yang hidup dengan yang mati. Sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tidak sanggup menjadikan orang-orang yang di dalam kubur dapat mendengar”. [Q.S. 35:22]

KEBANGKITAN
Ketika tiba Waktunya, seluruh manusia dibangkitkan dari kuburnya. Kebangkitan tersebut terasa seperti baru bangun tidur saja.

“Dan sesungguhnya Saat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya; dan Allah membangkitkan semua orang yang di dalam kubur”. [Q.S. 22:7]

“Mereka berkata: ‘Celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami? Inilah yang dijanjikan Yang Maha Pemurah, dan benarlah rasul-rasul.” [Q.S. 36:52]


Pada fase kehidupan kembali ini kita akan dibalas seadil-adilnya atas segala apa yang telah kita perbuat di dunia.

“Pada hari ini tiap-tiap jiwa dibalas dengan apa yang diusahakannya; tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah cepat membuat perhitungan.” [Q.S. 40:17]

Apakah logis manusia yang sudah mati bahkan tulang belulangnya pun telah hancur terurai dapat dibangkitkan hidup kembali utuh seperti sedia kala??

Kita perlu fakta empiris untuk menjawab pertanyaan di atas.

Mari lihat diri kita. Kita adalah makhluk hidup berjenis manusia. Dulu, kita hanyalah setetes air yang tersembur ketika ayah mendatangi ibu. Air itu berasal dari saripati makanan, dan makanan itu berasal dari saripati tanah. Dari setetes air yang benda MATI tersebut akhirnya hadirlah diri kita yang HIDUP ini.

Allah yang telah menciptakan kita. Bukan ayah dan ibu. Mereka tidak punya daya untuk menentukan mana dari ribuan sel sperma yang akan melekat ke sel telur; mereka tidak sanggup memastikan agar kita terlahir rupawan meskipun siang malam surat Yusuf dibacakan; mereka pun tidak bisa campur tangan menetapkan jenis kelamin kita.

Mari lihat lingkungan kita. Petani menabur benih padi yang MATI ke sebidang tanah yang juga MATI. Tanah tersebut kemudian disirami air yang juga
MATI. Dengan kekuasaan Allah bangkitlah di lahan tersebut makhluk HIDUP bernama batang padi. Bila Dia kehendaki, batang padi itu bisa tidak tumbuh sama sekali.

Karena premis-premis penciptaan di atas memang telah terbukti secara empiris, maka adalah logis kalau dinyatakan bahwa Allah yang telah mengeluarkan yang hidup dari yang mati dapat pula membangkitkan manusia yang sudah mati hidup kembali.

Kematian dan kehidupan adalah pasangan sebagaimana halnya siang dan malam. Dulu kita adalah benda mati, sekarang kita hidup. Besok kita mati, maka tentu akan hidup kembali. Abadi.

“Wahai Rabb kami, Engkau telah mematikan kami dua kali dan menghidupkan kami dua kali;…” [Q.S. 40:11]