Dongeng Isra Mikraj
Setiap tahun ceritera lama itu kembali dikumandangkan:
“Suatu malam dengan mengendarai buraq Nabi Muhammad diperjalankan dari Masjidil Haram di Mekah ke Mesjid Al-Aqsha di Palestina dan kemudian diterbangkan Tuhan ke langit untuk menerima perintah shalat. Perintah shalat awalnya limapuluh kali dalam sehari semalam, oleh Nabi Muhammad ditawar berkali-kali sehingga akhirnya cukup lima kali saja dalam sehari semalam...”.
Kisah isra’ mi’raj yang tercantum di dalam kitab-kitab hadits di atas sudah terekam dengan baik di memori otak setiap muslim, terlepas apakah mereka mempercayainya dengan sepenuh keyakinan ataupun mempercayainya karena tidak punya pilihan lain kecuali percaya saja.
Penulis termasuk orang yang tidak mempercayai cerita isra’ mi’raj di atas. Ada sedikitnya tujuh alasan mengapa cerita isra’ mi’raj yang sangat populer itu tidak layak untuk dipercayai.
TUJUH ALASAN KETIDAKPERCAYAAN
Alasan pertama, Al-Qur’an tidak pernah menyebut kata “mi’raj” dalam hubungannya dengan kisah isra’ mi’raj di atas. Kata “buraq” malah tidak ada sama sekali. Dua hal penting yang melengkapi cerita tentang isra’ mi’raj tersebut seharusnya ada di dalam Al-Qur’an bila memang benar cerita isra’ mi’raj sebagaimana yang dikisahkan benar-benar pernah terjadi.
Al-Qur’an hanya memuat kisah tentang seorang hamba Allah yang diperjalankan oleh Tuhan di malam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha (17:1) tanpa ada embel-embel terbang ke langit. Mungkinkah kisah monumental “terbang ke langit” ini luput dari Kitab-Nya? Sedangkan, “tidak Kami luputkan sesuatupun di dalam Kitab itu” (Q.S. 6:38)
Alasan ke dua, terdapat penjelasan yang tidak masuk akal berkaitan dengan urutan cerita isra’ mi’raj ini. Disebutkan di dalam suatu riwayat bahwa Nabi Muhammad mi’raj setelah sebelumnya beliau menunaikan shalat Isya. Bagaimana mungkin beliau melakukan shalat sedangkan perintah shalat katanya baru akan dijemput ke langit?
Alasan ke tiga, Allah di dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa lamanya perjalanan malaikat maupun ruh kepada-Nya adalah satu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun bagi manusia.
“Kepada-Nya malaikat-malaikat dan ruh naik dalam sehari yang ukurannya lima puluh ribu tahun”. (Q.S. 70:4)
Jadi, kalau benar Nabi telah naik ke langit pada 1400 tahun yang lalu maka beliau baru akan sampai kembali ke dunia 48.600 tahun lagi…
Alasan ke empat, mengatakan bahwa nabi telah ke Mesjid Al-Aqsha yang di Palestina adalah pernyataan yang tidak rasional sama sekali. Faktanya, Mesjid Al-Aqsha yang di Palestina baru dibangun oleh Amir Abdul Malik pada tahun 715/68H yang berarti 58 tahun setelah wafatnya Nabi.
Kata “Masjidil Aqsha” secara harfiah berarti “mesjid yang lebih jauh”. Pada masa Nabi ada dua buah mesjid yang biasa disebut “mesjid yang lebih jauh”, satu berada di kota Madinah satu lagi di kota Jirana. Kepastian bahwa isra’ Nabi bukan ke Palestina dibuktikan dengan kondisi Palestina yang tidak berhenti dari carut marut peperangan hingga hari ini. Kondisi Palestina tidak sesuai dengan firman Allah yang mengatakan telah memberkahi sekeliling Masjidil Aqsha.
“Tersanjunglah Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami…”. (Q.S. 17:1)
Alasan ke lima, Allah tidak pernah menetapkan shalat lima kali sehari bagi kaum muslim di dalam Kitab-Nya. Ketetapan Allah adalah tiga waktu shalat bagi manusia yaitu pada dua pinggir hari dan pada awal malam (11:114). Sebagaimana waktunya yang tiga, hanya ada tiga nama shalat di dalam Al-Qur’an yaitu shalat Fajar (24:58), shalat Isya (24:58), dan shalat Wustha (2:238).
Alasan ke enam, adegan tawar menawar antara Nabi Muhammad dan Allah berkenaan dengan frekuensi shalat dalam sehari semalam adalah sebuah adegan yang tidak masuk logika keberTuhanan. Tuhan Maha Tahu, tidak mungkin Dia tidak mengetahui kondisi manusia yang tidak akan sanggup menjalani shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Tidak mungkin Tuhan mengajak rasul-Nya ke langit untuk kemudian dipermainkan-Nya dalam sebuah episode tawar-menawar terhadap sebuah objek perintah yang sangat penting: “shalat”.
Alasan ke tujuh, tidak mungkin perintah Tuhan dapat ditawar-tawar sebagaimana cerita di dalam isra’ mi’raj. Bahwa perintah Tuhan tidak bisa ditawar-tawar dapat kita ketahui dari kisah Nabi Ibrahim yang khawatir tentang keadaan Nabi Luth sewaktu Allah akan menurunkan azab kepada kaum Nabi Luth. Nabi Ibrahim coba berargumentasi atas rencana Allah tersebut. Apa jawaban Allah?
“Wahai Ibrahim, berpalinglah dari ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabb kamu, dan sesungguhnya mereka akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”. (Q.S. 11:76)
PENGARUH BIBLE
Entah darimana inspirasi yang datang kepada penulis hadits berkenaan dengan isra’ mi’raj ini sehingga cerita yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan tidak masuk akal tersebut dijunjung sebagai sumber keyakinan. Memperhatikan adegan tawar-menawar perintah Tuhan yang ada di dalam cerita isra’ mi’raj maka ada kemungkinan para penulis hadits mendapatkan inspirasinya dari rekan-rekan Nasrani. Dikatakan demikian karena di dalam al-Kitab (bible) terdapat dialog tawar menawar atas perintah Tuhan.
Tawar menawar yang tertulis di al-Kitab (bible) berkaitan dengan rencana penjatuhan azab atas kaum Nabi Luth sebagaimana yang disinggung di atas. Apabila dalam kisah versi Al-Qur’an argumentasi Nabi Ibrahim ditolak mentah-mentah, pada versi al-Kitab (bible) Tuhan mengatakan bahwa azab akan dibatalkan bila di kalangan kaum Nabi Luth ada lima puluh orang yang beriman. Syarat ini kemudian ditawar berkali-kali oleh Nabi Ibrahim sehingga akhirnya Tuhan menurunkan syarat pembatalan azab-Nya menjadi cukup dengan berimannya sepuluh orang kaum Nabi Luth (Kejadian 18:23-32).
Demikianlah, ajaran Islam selamanya tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Kebodohan dan irasionalitas muncul ketika kaum muslim meninggalkan kitab Allah dan menyandarkan diri pada kitab-kitab hadits hasil karangan manusia yang ditulis 200 tahun selepas wafatnya Nabi.
Penulis termasuk orang yang tidak mempercayai cerita isra’ mi’raj di atas. Ada sedikitnya tujuh alasan mengapa cerita isra’ mi’raj yang sangat populer itu tidak layak untuk dipercayai.
TUJUH ALASAN KETIDAKPERCAYAAN
Alasan pertama, Al-Qur’an tidak pernah menyebut kata “mi’raj” dalam hubungannya dengan kisah isra’ mi’raj di atas. Kata “buraq” malah tidak ada sama sekali. Dua hal penting yang melengkapi cerita tentang isra’ mi’raj tersebut seharusnya ada di dalam Al-Qur’an bila memang benar cerita isra’ mi’raj sebagaimana yang dikisahkan benar-benar pernah terjadi.
Al-Qur’an hanya memuat kisah tentang seorang hamba Allah yang diperjalankan oleh Tuhan di malam hari dari Masjid Al-Haram ke Masjid Al-Aqsha (17:1) tanpa ada embel-embel terbang ke langit. Mungkinkah kisah monumental “terbang ke langit” ini luput dari Kitab-Nya? Sedangkan, “tidak Kami luputkan sesuatupun di dalam Kitab itu” (Q.S. 6:38)
Alasan ke dua, terdapat penjelasan yang tidak masuk akal berkaitan dengan urutan cerita isra’ mi’raj ini. Disebutkan di dalam suatu riwayat bahwa Nabi Muhammad mi’raj setelah sebelumnya beliau menunaikan shalat Isya. Bagaimana mungkin beliau melakukan shalat sedangkan perintah shalat katanya baru akan dijemput ke langit?
Alasan ke tiga, Allah di dalam Al-Qur’an menyebutkan bahwa lamanya perjalanan malaikat maupun ruh kepada-Nya adalah satu hari yang ukurannya sama dengan lima puluh ribu tahun bagi manusia.
“Kepada-Nya malaikat-malaikat dan ruh naik dalam sehari yang ukurannya lima puluh ribu tahun”. (Q.S. 70:4)
Jadi, kalau benar Nabi telah naik ke langit pada 1400 tahun yang lalu maka beliau baru akan sampai kembali ke dunia 48.600 tahun lagi…
Alasan ke empat, mengatakan bahwa nabi telah ke Mesjid Al-Aqsha yang di Palestina adalah pernyataan yang tidak rasional sama sekali. Faktanya, Mesjid Al-Aqsha yang di Palestina baru dibangun oleh Amir Abdul Malik pada tahun 715/68H yang berarti 58 tahun setelah wafatnya Nabi.
Kata “Masjidil Aqsha” secara harfiah berarti “mesjid yang lebih jauh”. Pada masa Nabi ada dua buah mesjid yang biasa disebut “mesjid yang lebih jauh”, satu berada di kota Madinah satu lagi di kota Jirana. Kepastian bahwa isra’ Nabi bukan ke Palestina dibuktikan dengan kondisi Palestina yang tidak berhenti dari carut marut peperangan hingga hari ini. Kondisi Palestina tidak sesuai dengan firman Allah yang mengatakan telah memberkahi sekeliling Masjidil Aqsha.
“Tersanjunglah Dia yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat Kami…”. (Q.S. 17:1)
Alasan ke lima, Allah tidak pernah menetapkan shalat lima kali sehari bagi kaum muslim di dalam Kitab-Nya. Ketetapan Allah adalah tiga waktu shalat bagi manusia yaitu pada dua pinggir hari dan pada awal malam (11:114). Sebagaimana waktunya yang tiga, hanya ada tiga nama shalat di dalam Al-Qur’an yaitu shalat Fajar (24:58), shalat Isya (24:58), dan shalat Wustha (2:238).
Alasan ke enam, adegan tawar menawar antara Nabi Muhammad dan Allah berkenaan dengan frekuensi shalat dalam sehari semalam adalah sebuah adegan yang tidak masuk logika keberTuhanan. Tuhan Maha Tahu, tidak mungkin Dia tidak mengetahui kondisi manusia yang tidak akan sanggup menjalani shalat sebanyak lima puluh kali dalam sehari semalam. Tidak mungkin Tuhan mengajak rasul-Nya ke langit untuk kemudian dipermainkan-Nya dalam sebuah episode tawar-menawar terhadap sebuah objek perintah yang sangat penting: “shalat”.
Alasan ke tujuh, tidak mungkin perintah Tuhan dapat ditawar-tawar sebagaimana cerita di dalam isra’ mi’raj. Bahwa perintah Tuhan tidak bisa ditawar-tawar dapat kita ketahui dari kisah Nabi Ibrahim yang khawatir tentang keadaan Nabi Luth sewaktu Allah akan menurunkan azab kepada kaum Nabi Luth. Nabi Ibrahim coba berargumentasi atas rencana Allah tersebut. Apa jawaban Allah?
“Wahai Ibrahim, berpalinglah dari ini. Sesungguhnya telah datang ketetapan Rabb kamu, dan sesungguhnya mereka akan didatangi azab yang tidak dapat ditolak”. (Q.S. 11:76)
PENGARUH BIBLE
Entah darimana inspirasi yang datang kepada penulis hadits berkenaan dengan isra’ mi’raj ini sehingga cerita yang tidak sejalan dengan Al-Qur’an dan tidak masuk akal tersebut dijunjung sebagai sumber keyakinan. Memperhatikan adegan tawar-menawar perintah Tuhan yang ada di dalam cerita isra’ mi’raj maka ada kemungkinan para penulis hadits mendapatkan inspirasinya dari rekan-rekan Nasrani. Dikatakan demikian karena di dalam al-Kitab (bible) terdapat dialog tawar menawar atas perintah Tuhan.
Tawar menawar yang tertulis di al-Kitab (bible) berkaitan dengan rencana penjatuhan azab atas kaum Nabi Luth sebagaimana yang disinggung di atas. Apabila dalam kisah versi Al-Qur’an argumentasi Nabi Ibrahim ditolak mentah-mentah, pada versi al-Kitab (bible) Tuhan mengatakan bahwa azab akan dibatalkan bila di kalangan kaum Nabi Luth ada lima puluh orang yang beriman. Syarat ini kemudian ditawar berkali-kali oleh Nabi Ibrahim sehingga akhirnya Tuhan menurunkan syarat pembatalan azab-Nya menjadi cukup dengan berimannya sepuluh orang kaum Nabi Luth (Kejadian 18:23-32).
Demikianlah, ajaran Islam selamanya tidak bertentangan dengan akal sehat manusia. Kebodohan dan irasionalitas muncul ketika kaum muslim meninggalkan kitab Allah dan menyandarkan diri pada kitab-kitab hadits hasil karangan manusia yang ditulis 200 tahun selepas wafatnya Nabi.

<< Home