12 August 2005

Belajar Al-Qur'an


Dalam upaya kita kaum muslim untuk mempelajari Al-Qur’an, hal yang pertama harus kita yakini adalah bahwa Allah memudahkan Al-Qur’an itu untuk dipelajari.

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Qur'an itu untuk peringatan. Maka adakah orang yang mau memikirkan?” (Q.S. 54:17) (Ayat dengan redaksi serupa: 54:22, 54:32, 54:40)

Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat
Ketika membuka lembaran-lembaran Al-Qur’an kita menemukan sebuah susunan yang unik dan mungkin dirasa kurang memuaskan. Susunannya dikatakan unik karena topik-topik yang dibahas didalam Al-Qur’an umumnya tidak termuat utuh dalam sebuah cuplikan ayat-ayat yang berurutan.

Sekadar contoh, ketentuan tentang zakat dapat kita temukan tersebar pada banyak surat di dalam Al-Qur’an. Kerap ayat dengan redaksi yang sebenarnya serupa diulang lagi di dalam ayat-ayat lain.

Begitulah Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat ayat-ayat yang jelas menetapkan sebuah ketentuan secara tegas (muhkamat) dan terdapat pula ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) dan tersebar pada berbagai surat di dalam Al-Qur’an.

Adanya ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) disamping ayat-ayat yang tegas (muhkamat) adalah untuk memisahkan antara orang-orang beriman dengan orang-orang yang hatinya menyimpang.

“Dialah yang menurunkan al-Kitab kepadamu, di dalamnya ada ayat-ayat muhkamat (tegas). Itulah ibu al-Kitab, dan yang lain mutasyabihat (serupa). Adapun orang-orang yang hatinya condong kepada kesesatan, mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat darinya untuk menginginkan pertikaian, dan mencari-cari interpretasinya. Tiada yang mengetahui interpretasinya kecuali Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata, ‘Kami beriman kepadanya; semua itu dari sisi Pemelihara kami’; dan tidak dapat mengambil pelajaran, kecuali orang-orang yang berakal.” (Q.S. 3:7)

Tahap-Tahap Belajar Al-Quran

1.Bahasa
Kendala pertama yang mencuat ketika ingin mempelajari Al-Qur’an biasanya adalah masalah penguasaan bahasa Arab. Para pemuka agama yang hatinya menyimpang menjadikan kendala ini senjata untuk menakut-nakuti umat agar asing dari Al-Qur’an sehingga cukup ucapan mereka (pemuka agama) saja yang dijadikan dasar untuk beragama.

Tentu saja menguasai bahasa Arab adalah sebuah nilai lebih, namun itu bukan syarat untuk dapat menangkap pesan-pesan Allah. Dewasa ini terdapat banyak karya-karya terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, tidak ketinggalan pula berjenis-jenis kamus untuk mengecek kecocokan kata.

Dapat atau tidaknya kita menangkap pesan Allah yang ada di dalam Al-Qur’an tidak bergantung pada ilmu bahasa Arab kita melainkan pada karunia iman yang ada di dalam hati kita.

Allah yang mengatur apakah kita akan dibuat paham atau tidak!

“Jika Kami membuatnya sebuah Qur'an dalam bahasa asing, tentu mereka berkata: ‘Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya? Apakah dalam bahasa asing sedang orangnya berbahasa Arab?’ Katakanlah: ‘Al-Qur’an ini adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman di dalam telinga mereka ada sumbat, dan Al-Qur’an itu suatu kegelapan bagi mereka; mereka itu seperti dipanggil dari tempat yang jauh.” (Q.S. 41:44)

“Sesungguhnya ia adalah Al-Qur'an yang mulia, dalam Kitab yang terpelihara, tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang dibersihkan. Suatu penurunan dari Pemelihara semesta alam.” (Q.S. 56:77-80)


2. Menyusun Ayat-Ayat Berdasarkan Topik
Hal ini (menyusun ayat-ayat berdasarkan topik) adalah masalah inti yang luput dari kaum muslim selama ini. Al-Qur’an sendiri memerintahkan penyusunan berdasarkan topik ini didalam perintah ‘Ratil’.

“Bangunlah pada waktu malam, kecuali sedikit. Separuhnya atau kurang daripadanya sedikit. Atau lebih atasnya, dan susunlah (rattili) Al-Qur’an dengan sebuah penyusunan (tartiila). Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepada kamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bagian pertama malam lebih kuat dan lebih berkesan. Sesungguhnya pada siang hari kamu mempunyai urusan yang panjang.” (Q.S. 73:2-7)

Ratil’ adalah kata bahasa Arab yang berarti: ‘menyusun hal-hal yang serupa’.
Sebagai contoh: Tank-tank yang dibariskan bersama disebut ‘Ratil Dababat’ (susunan tank-tank). Tidak dikatakan ‘Ratil’ dalam bahasa Arab bila hal-hal yang disusun tidak serupa (misalkan di dalam sebuah barisan terdapat tank-tank, mobil-mobil, dan pesawat-pesawat maka kata ‘Ratil’ tidak dapat digunakan).

Oleh karena itu, apabila misalnya kita ingin mengetahui apa yang dikatakan Allah tentang ‘zakat’, maka kita dapat mulai dengan mengutip semua ayat-ayat yang bicara tentang topik ‘zakat’ di dalam Al-Qur’an dan kemudian ‘menyusunnya bersama-sama’ (Tartiil).

Ayat-ayat yang serupa (mutasyabihat) ini dikumpulkan untuk melihat pengertian menyeluruh dari sebuah topik sehingga kita terhindar dari kesalahan karena langsung manarik kesimpulan dari sebuah ayat yang serupa (mutasyabihat) sebagaimana diperingatkan Allah pada Q.S. 3:7 di atas.

3.Menarik Pengertian Dari Ayat-Ayat
Setelah kita mengumpulkan ayat-ayat tentang suatu topik tertentu maka sekarang waktunya bagi kita untuk ‘menarik pengertian’.

“Sesungguhnya Pemeliharamu mengetahui bahwa kamu berjaga-jaga hampir dua per tiga malam, atau separuhnya, atau satu per tiganya, dan segolongan dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menentukan malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak akan menjumlahkannya, dan Dia menerima taubat kamu. Maka pahamilah (faqra’u) dari al-Qur’an semudah yang dapat. Dia mengetahui bahwa antara kamu ada yang sakit, dan yang lain antara kamu berpergian di bumi, mencari pemberian Allah, dan yang lain berperang di jalan Allah. Maka pahamilah (faqra’u) darinya semudah yang dapat.” (Q.S. 73:20)

Kata ‘Iqra’ berarti: ‘memahami/ mengerti sebuah arti’. Sayangnya kata ini sekarang biasa diartikan dengan hanya ‘membaca’. ‘Iqra’ adalah turunan dari kata ‘qarana’ yang berarti ‘menyusun sesuatu bersama-sama’.

Sebagai contoh: Ketika seseorang membaca majalah, maka ia ‘Yatlu’ majalah (bukan qar’a atau iqr’a)… Sedangkan ketika seorang guru mengajarkan teori Newton kepada muridnya, dia ‘Yaqra’ pelajaran (menjelaskan/memahamkan) kepada murid.

Fase menarik sebuah pengertian dari ayat-ayat Al-Qur’an ini adalah fase paling krusial dimana kesalahan mungkin saja terjadi.

Perhatikan faktor-faktor yang memungkinkan terjadinya kesalahan:
- Tidak mengumpulkan ayat-ayat serupa dengan lengkap
- Terdapat penterjemahan kata yang tidak tepat
- Diperlukan pengetahuan teknis untuk memahami ayat-ayat tertentu dengan lebih baik. Misalkan ayat-ayat tentang penciptaan alam semesta akan lebih baik dijelaskan oleh orang yang memang mendalami ilmu fisika

Disamping itu tidak lupa kita meminta perlindungan dari godaan syetan yang ingin mengintervensi hati kita ke dalam keragu-raguan.

“Apabila kamu memahami Al-Qur'an, mohonlah perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. Sesungguhnya syaitan itu tidak ada baginya kuasa atas orang-orang yang beriman, dan bertawakal kepada Pemelihara mereka.” (Q.S. 16:98-99)

4. Perhatikan penjelasan orang lain dan ikuti pengertian yang terbaik.
Meskipun sudah menarik pengertian yang kita ‘rasa’ tepat, tetaplah terbuka terhadap masukan-masukan dari orang lain. Bisa jadi ada pandangan berbeda yang lebih tepat disebabkan adanya ayat-ayat ataupun contoh-contoh di dalam Al-Qur’an yang luput dari pengamatan kita.

Jangan langsung apriori atau membantah. Simak dan diamlah sejenak …

“Dan apabila dijelaskan Al-Qur'an, dengarkanlah dan diamlah supaya kamu dirahmati.” (Q.S. 7:204)

Orang-orang yang mendapat petunjuk Allah dan menggunakan akalnya tidak akan mempertahankan pendapatnya atas dasar ego. Ia akan mengikuti yang ‘terbaik’ dari beberapa pendapat berbeda yang ada.

“Orang-orang yang mendengarkan perkataan dan mengikuti yang paling baik darinya, mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah; mereka itulah orang-orang yang mempunyai pikiran.” (Q.S. 39:18)

Dalam menjalani proses belajar Al-Qur’an ini kita harus bersabar dan tidak lupa bahwa guru sebenarnya dalam memahami Al-Qur’an adalah Allah. Mintalah kepada-Nya agar kita ditambahkan pengetahuan.

“Dan janganlah kamu tergesa-gesa dengan Al-Qur’an sebelum wahyunya disempurnakan kepadamu. Dan katakanlah: ‘Wahai Pemeliharaku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Q.S. 20:114)

Ayo kita mulai mempelajari kandungan Al-Qur'an. Sekarang juga.

Disadur dari
http://www.free-minds.org/articles/quranic/study.htm