08 July 2005

Hadits Yang Sesungguhnya


Istilah hadits disebut dalam banyak ayat di dalam Al-Qur’an. Kebanyakan penggunaan kata “hadits” diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai “perkataan/ ucapan”. Beberapa diantara kata “hadits” dimaksudkan untuk menyebut “Al-Qur’an” karena Al-Qur’an pun pada dasarnya adalah perkataan, yaitu perkataan Allah.

Uniknya, tidak ada ditemukan satupun rangkaian kata “hadits Nabi Muhammad” di dalam Al-Qur’an.

Di bawah ini adalah beberapa kutipan surat Al-Qur’an yang memuat kata hadits (perkataan):

“Allah, tidak ada Tuhan selain Dia, sesungguhnya Dia akan mengumpulkan kamu di hari kiamat, yang tidak ada keraguan padanya. Dan siapakah yang lebih benar hadits (perkataan) nya daripada Allah?” (Q.S. 4:87)

“Dan sesungguhnya Allah telah menurunkan kepadamu di dalam Al-Qur’an, bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olok, maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai mereka memasuki hadits (perkataan, pembicaraan) yang lain…”. (Q.S. 4:140)

"Maka hendaklah mereka mendatangkan serangkaian hadits (perkataan) yang serupa dengannya (Al-Qur'an), jika mereka adalah orang-orang yang benar" (Q.S. 52:34)

Al-Qur’an Adalah Hadits Terbaik
Hadits yang sesungguhnya harus diikuti oleh umat Islam adalah hadits paling baik yang telah Allah turunkan dalam bentuk kitab (Al-Qur’an).

"Allah telah menurunkan hadits yang paling baik, sebuah Kitab (Al-Qur’an) yang serupa lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit-kulit mereka dan hati mereka kepada mengingat Allah. Demikianlah petunjuk Allah, Dia memberi petunjuk dengannya (kitab) kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barang siapa yang Allah sesatkan, maka tak ada baginya seorang pemberi petunjuk" (Q.S. 39:23)

Menjadi jelas kini bahwa hadits yang telah diturunkan oleh Allah untuk manusia adalah hadits yang terbaik berwujud Al-Qur’an. Bagaimana dengan hadits Nabi Muhammad, apakah Beliau tidak ada menetapkan suatu hadits untuk manusia disamping Al-Qur’an?

Seperti yang telah disinggung di atas, tidak terdapat satupun rangkaian kata “hadits Nabi Muhammad” di dalam Al-Qur’an. Hal ini adalah wajar mengingat bahwa tugas Nabi Muhammad maupun rasul-rasul yang lain hanyalah untuk menyampaikan. Dan apa yang disampaikan oleh para rasul tidak lain adalah peringatan yang diturunkan oleh Allah (Al-Qur’an).

“Kewajiban Rasul tidak lain hanyalah menyampaikan, dan Allah mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan”. (Q.S. 5:99)

“Hai kaumku sesungguhnya aku telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu…” (Q.S. 7:79)

“Hai kaumku, sesungguhnya aku telah telah menyampaikan risalah Tuhanku kepadamu…” (Q.S. 7:93)

Nabi Muhammad sebagaimana halnya rasul-rasul yang lain tidak akan mungkin mengada-adakan suatu perkataan apapun, karena tugas Beliau hanya untuk menyampaikan. Kalaulah Nabi sampai mengada-adakan suatu perkataan, maka Allah pasti akan membunuhnya.

"Dan seandainya dia (Muhammad) mengada-adakan suatu perkataan atas (nama) Kami, niscaya Kami pegang dia dengan tangan kanan, kemudian pasti Kami potong urat jantungnya" (Q.S. 69:44-46)

Hadits Palsu Karangan Ulama Palsu
Hadits sebagaimana yang kita kenal hari ini sesungguhnya adalah ajaran palsu yang diada-adakan oleh para pendusta dan ajaran tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan Nabi Muhammad.

Hadits palsu yang diterbitkan selang 200 tahun setelah Nabi wafat oleh ulama palsu semacam Bukhari, Muslim dkk selalu dibubuhi kesaksian orang-orang yang hidup pada masa Nabi semacam: “kakek dari paman neneknya si anu melihat rasulullah melakukan ……”, “bapak dari bapaknya bibiku pernah mendengar Nabi Muhammad berkata ……”, “dari si anu dikatakan bahwa dalam sebuah peperangan Rasulullah telah ……” dan sebagainya.

Kesaksian-kesaksian manusia semacam itu dimunculkan untuk meyakinkan umat bahwa Nabi Muhammad benar-benar memberi peringatan kepada manusia dengan apa yang mereka sebut sebagai hadits itu. Padahal Nabi Muhammad sendiri menegaskan bahwa dirinya memberi peringatan kepada manusia dengan Al-Qur’an. Allah yang menjadi saksi.

“Siapakah yang lebih kuat kesaksiannya? Allah menjadi saksi antara aku dan kamu, dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku supaya aku memberi peringatan dengannya kepadamu dan kepada orang-orang yang telah sampai, apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah? Aku tidak mengakui! Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan”. (Q.S. 6:19)

Koherensi Dalam Ketaatan Kepada Rasul dan Kepada Allah
“Barangsiapa yang mentaati Rasul, maka sesungguhnya ia mentaati Allah...” (Q.S. 4:80)

Ayat di atas dengan jelas menunjukkan sebuah hubungan koherensi (kesatuan, kesamaan) antara mentaati rasul dan mentaati Allah. Dengan mentaati rasul berarti kita telah mentaati Allah karena terdapat kesamaan objek antara apa yang diturunkan Allah dan apa yang disampaikan rasul, yaitu Al-Qur’an.

Sebaliknya tidak terdapat hubungan koherensi (kesatuan, kesamaan) antara Al-Qur’an dan ajaran hadits. Uraian di bawah ini menunjukkannya:

Allah di dalam Q.S. 11:114 memerintahkan manusia untuk shalat tiga waktu dalam sehari semalam. Hadits mengajarkan manusia untuk shalat lima waktu dalam sehari semalam.

Allah di dalam Q.S. 17:110 menyuruh manusia agar tidak melantangkan ataupun mendiamkan suaranya di dalam shalat melainkan mengambil yang pertengahan.
Hadits mengajarkan manusia agar melantangkan suaranya di sebagian shalat dan mendiamkan suaranya di sebagian lagi.

Allah di dalam Q.S. 72:18 melarang manusia memanggil kepada selain Allah di dalam shalatnya.
Kitab hadits mengajarkan manusia agar juga memanggil nabi di dalam shalat (…salam atasmu wahai nabi…)

Allah di dalam Q.S. 2:187 memerintahkan manusia untuk menyempurnakan puasa sampai malam.
Hadits mengajarkan manusia untuk berbuka ketika terbenam matahari (petang).

Allah di dalam Q.S. 36:69 menyatakan bahwa Al-Qur’an bukanlah syair, karenanya tidak pantas dilagukan.
Hadits mendorong manusia agar melagukan bacaan Al-Qur’an dengan indah (diperlakukan seperti syair).

Allah di dalam Q.S. 7:31-32 menyuruh manusia mengenakan perhiasan, dan mempertanyakan siapa yang berani mengharamkan perhiasan yang telah dikarunakan-Nya.
Hadits mengharamkan emas dan sutera bagi laki-laki

Allah di dalam Q.S. 2:173 dan Q.S. 5:3 telah memperincikan makanan yang haram untuk dimakan.
Hadits mengharamkan pula hewan-hewan lain selain dari apa yang telah ditetapkan Allah, padahal perbuatan mengharamkan tersebut dilarang Allah di dalam Q.S. 10:59 dan Q.S. 16:116.

Allah di dalam Q.S. 24:2 mengeluarkan fatwa bahwa pezina harus dihukum dengan dera 100 kali.
Hadits mengeluarkan fatwa bahwa pezina yang sudah menikah harus dirajam sampai mati.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa apa yang tertulis di dalam kitab-kitab hadits PASTI BUKAN ajaran rasul. Karena bila memang benar rasul mengajarkan demikian, maka dengan mentaati rasul kita telah mengingkari Allah.

Orang-orang yang tidak beriman membuat perbedaan antara Allah dan rasul-Nya dengan cara mengada-ada ajaran yang kamudian dilekatkan pada diri rasul sehingga seakan-akan ada perbedaan diantara Allah dan rasul.

“Sesungguhnya orang-orang yang ingkar kepada Allah, dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud membuat perbedaan antara Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan berkata: ‘Kami beriman kepada sebagian, dan kami mengingkari sebagian,’ serta bermaksud mengambil di antara ini dan itu, satu jalan”. (Q.S. 4:150)

Setelah memaklumi bahwa hadits yang sesungguhnya harus kita ikuti adalah Al-Qur’an, dan bahwa Nabi Muhammad tidak ada pernah mengarang satu hadits pun untuk diimani manusia, apakah kita masih akan mempercayai hadits-hadits karangan ulama palsu yang coba dialamatkan kepada diri Nabi?

"Maka hadits apakah selain (Al-Qur’an) ini yang akan mereka imani?" (Q.S. 77:50)