Quran: Kitab yang Telah Sempurna
Sumber Petunjuk
Quran sebagai sebuah Kitab yang diturunkan oleh Tuhan Pencipta semesta alam berfungsi sebagai petunjuk bagi orang-orang yang berwaspada. Ia menjadi rujukan untuk mereka yang hendak menetapi kebenaran dan menjauhi kesesatan.
Kitab itu tidak ada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang yang berwaspada. (Quran 2:2)
Jelas dan Menjelaskan
Semua perintah, larangan, dan ketetapan yang diturunkan Tuhan untuk manusia telah tertulis dengan jelas di dalam Quran.
"Bahkan ia (Quran) itu adalah ayat-ayat yang jelas di dalam dada orang-orang yang berpengetahuan. Dan tiada yang menyangkal ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim." (Quran 29:49)
Bukan hanya jelas, tapi Quran pun bersifat menjelaskan (mubayyinah). Oleh karenanya, penjelasan atas sesuatu perintah Tuhan akan didapati di dalam Quran itu sendiri.
“Seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Tuhan yang menjelaskan, supaya Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan dari kegelapan kepada cahaya....” (Quran 65:11)
Terperinci
Sifat lain dari Quran adalah terperinci (tafshil), dan memerincikan (mufashal). Terperinci artinya adalah terperinci. Orang-orang yang tidak beriman kerap tidak bisa mencerna sebuah kata dalam bahasa Indonesia tersebut.
Dengan fatwa Tuhan ini gugurlah fatwa-fatwa ajaran palsu yang mengatakan bahwa Quran itu bersifat garis besar dan masih dibutuhkan sumber lain untuk memerincinya.
“Apakah kepada selain Tuhan aku mencari hakim, padahal Dia telah menurunkan Kitab kepadamu secara terperinci?....” (Quran 6:114)
“...Bukanlah ia (Quran) itu cerita yang diada-adakan, tetapi ia pembenar (kitab) yang sebelumnya dan pemerincian segala sesuatu, dan petunjuk serta kasih sayang bagi kaum yang beriman.” (Quran 12:111)
Tingkat keterperincian Quran adalah sesuai dengan yang dikehendaki Tuhan. Bisa saja Tuhan menetapkan sesuatu hal dengan batasan yang longgar seperti misalnya ketentuan tentang bacaan shalat. Selain seruan dan pujian pada permulaan serta akhir shalat, Tuhan tidak menetapkan secara khusus apa-apa yang harus kita baca ketika berdiri , ketika berlutut, ataupun ketika bersujud. Sebaliknya, bisa pula Tuhan menetapkan sebuah batasan yang sangat ketat sebagaimana dapat dibaca pada ayat tentang waris di bawah ini.
“Tuhan mewasiatkan kepadamu tentang (pembagian warisan) untuk anak-anakmu, yaitu: bagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua orang, maka bagi mereka 2/3 dari harta yang ditinggalkan, dan jika anak perempuan itu seorang saja maka ia memperoleh 1/2 harta. Dan untuk dua orang ibu bapak, bagi masing-masing memperoleh 1/6 dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. Jika yang meninggal itu tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu bapaknya saja, maka ibunya memperoleh 1/3. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya memperoleh 1/6 sesudah dipenuhi wasiat dan hutang-hutangnya….Dan bagi kamu 1/2 dari harta yang ditinggalkan istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika istri-istrimu mempunyai anak maka kamu memperoleh 1/4 dari harta yang ditinggalkannya, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuatnya dan hutang-hutangnya. Dan bagi para istri memperoleh 1/4 dari harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri itu memperoleh 1/8 dari harta yang kamu tinggalkan sesudah dipenuhi wasiat dan hutang-hutangnya. Dan jika seseorang wafat baik laki-laki atau perempuan yang tidak meninggalkan bapak dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki atau seorang saudara perempuan, maka masing-masing dari kedua saudara itu memperoleh 1/6. Tetapi jika saudara-saudara lebih dari seorang, maka mereka berbagi dalam yang 1/3 sesudah dipenuhi wasiat dan hutang-hutangnya dengan tidak merugikan. Itulah ketetapan Tuhan, dan Tuhan Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Quran 4:11-12)
Karena Tuhan bisa menetapkan sesuatu ketentuan dengan sangat ketat dan mendetil jika Dia mau, maka ketika ada perintah yang kesannya ”sederhana”, memang hanya begitulah yang Tuhan kehendaki.
Sebagai contoh, Tuhan memerintahkan untuk membasuh empat anggota tubuh sebelum shalat, bukan tujuh anggota tubuh. Kalau ada yang menilai bahwa perintah membasuh empat anggota tubuh masih belum cukup terperinci, maka orang tersebut telah menganggap dirinya lebih tahu daripada Tuhan.
Sempurna
Selanjutnya kita mesti menyadari bahwa ayat-ayat Quran itu adalah rangkaian perkataan Tuhan yang telah sempurna. Sebagai sebuah kitab yang telah sempurna, tidak dapat diterima perubahan, pengurangan, ataupun penambahan atas apa-apa yang telah ditetapkan. Karenanya, batal bila ada kitab lain yang disifatkan sebagai pelengkap bagi Quran.
”Dan telah sempurna kata-kata Tuhanmu dengan kebenaran dan keadilan. Tidak ada yang mengubah kata-kata-Nya, dan Dia Mendengar (lagi) Mengetahui” (Quran 6:115)

<< Home